Minggu, 20 Januari 2013

Artikel



Logika Minor Vs Logika Mayor

Jeruk Logika Minor Vs Logika Mayor, merupakan cerita yang sangat teringat dibenak saya ketika belajar filsafat di S1 dulu. Namun mungkin berbeda orientasi sangat belajar Filsafat Ilmu  saat ini. Cerita Jeruk ini bermula dari tiga orang yang ingin membeli 1 kilogram buah jeruk manis di sebuah pasar swalayan untuk dibawa pulang ke rumahnya. Setiap orang akan memastikan rasa manis dari jeruk yang akan di beli.

  1. 1)     Orang pertama mencoba semua jeruk (1kg). Dia meninggalkan toko itu dengan membawa plastik berisikan kulit sepuluh buah jeruk.
  2. 2)    Orang kedua, hanya mencicipi sebuah jeruk, lalu memasukkan 1 kg jeruk dalam plastik sesudah membayarkan harganya lalu meninggalkan toko itu.
  3. 3)  Orang ketiga melakukan serangkaian aksi intelektual terhadap jeruk tersebut secara universal, mulai dari meneliti merek, cara, komposisi kandungannya dan nama negara pengekspornya.Ia memastikan sepuluh jeruk itu manis tanpa mencicipinya satu buah pun lalu meninggalkan toko itu sambil menjinjing plastik berisikan 1 kg jeruk.


Ada tiga tipikal manusia yang menggunakan tiga cara membangun sebuah keyakinan, termasuk keyakinan agamanya.

1.      Orang pertama menggunakan induksi, karena setiap tema harus diyakini berdasarkan penelitian, ia mulai mengkaji satu tema lalu tema kedua dan begitulah seterusnya.[1] Benaknya berpindah dari sebuah tema minor ke tema minor lainnya sebelum menghimpunnya dalam sebuah keyakinan yang kompleks. Aksi induksi ini menyimpulakn tema universal sebagai kesimpulan.
2.      Orang kedua menggunakan metode kombinasi analogi dan induksi (analogi induktif)[2] yang terbatas. Menularkan hukum sebuah objek partikular terkecil yang telah dikajinya atas objek partikular lainnya yang tidak dikajinya, lalu memastikan semua partikular yang sama dalam himpunan keyakinan universal sebagai kesimpulan.
3.      Orang ketiga hanya mengkaji tema universal yang merupakan muara tema-tema partikular lainnya. Ia hanya memeras otak untuk memahami tema mayor, yang meliputi minor-minor. Selanjutnya ia hanya menerima dan mengamalkan tema-tema minor yang merupakan konsekuensinya. Sebagai contoh, ia melakukan shalat, yang merupakan tema minor, sebagai konsekuensi keyakinan mayornya, yaitu Islam, tanpa merasa perlu tahu tentang dalil detailnya[3]. Selanjutnya ia menjalankan aktivitasnya.

Ketiga metode yang kita bahas diatas, akan lebih mendalam pemabahasannya dalam kajian epistemologi, yaitu ilmu tentang sumber dan anatomi pengetahuan. Sehingga bisa kita dipastikan bahwa orang pertama tidak akan pernah berhenti mencari, membahas dan berdiskusi, bahkan mungkin tidak sempat melaksanakan keyakinannya, karena ia akan sibuk menjelajahi etalase tema-tema partikular yang masih mengganjal atau yang belum diproses oleh otaknya atau belum diyakininya. Ia adalah petualang wacana, tanpa mencapai sebuah kesimpulan universal yang bisa dijadikan sebagai pandangan dunia dan jalan hidupnya. Sedangkan orang kedua hanya mengandalkan kemungkinan universal berdasarkan pengetahuan yang bersifat partikular, dengan tetap membuka ruang kecil bagi opsi dan kemungkinan lain yang bisa jadi menafikan kesimpulan universalnya. Ia senanatiasa diliputi oleh kecurigaan dan waw-was akan kesalahan yang mungkin akan muncul, karena belum diyakininya secara komprehensif. Ia tidak akan pernah memiliki keterikatan relijius. Ia bahkan akan selalu gamang dan tidak commitmen. Sisi positifnya, ia biasanya bersikap pluralis, toleran dan anti fanatisme. Adapun orang ketiga tidak akan sibuk lagi dengan mempelajari dan mengkaji tema-tema partikular yang dianggapnya sebagai bagian dari tema universal yang telah diyakininya. Misalnya, orang ini tidak akan menghabiskan waktu di perpustakaan untuk mencari tahu dalil tentang detail-detail shalat, karena sudah memastikan sumber hukum yang diandalkannnya untuk dijadikan sebagai panutan dan rujukan. Orang yang menggunakan cara ketiga (deduksi) tidak merasa perlu mengetahui dalil dan alasan serta detail hukum tema-tema yang bersifat partikular sebelum melaksanakannya. Ia laksana orang yang telah memeras otak untuk mencari kriteria ‘atasan’. Setelah menemukan dan meyakini seseorang sebagai atasannya dan dirinya sebagai bawahannya, ia tidak lagi memerlukan dalil untuk melaksanakan setiap perintah atasannya itu, karena perintah itu bersifat partikular, dan hanyalah konskuensi logis dari keyakinan universalnya akan status orang itu sebagai atasan. Kalau bawahan menanyakan alasan rasional dan tujuan perintah atasannya, sangat mungkin besok ia sudah kehilangan posisi sebagai ‘bawahan’ alias di PHK karena desersi atau ‘mogok taat’.
Manakah cara yang perlu diutamakan dan dipilih? penulis juga merasa bingung dalam menentukan pilihan mana yang paling tepat. Pendekatan induksi tidak ada salahnya jika dilakukan, namun pendekatan ini tidak berlaku untuk semua objek kajian, lebih cendrung pada ilmu-ilmu alam yang dapat berhubungan langsung dengan kajian keagamaan. Misalnya mengukur tingkat kebersihan air untuk bersuci, penggunaan air dua kulah, dan sebagainya. Begitu juga untuk pendekatan pertama, haruslah dilakukan pembatasa objek, sehingga kesempulan yang dihasilnya tidak digeneralisir. Artinya agama yang merupapakan keyakinan dapatlah kita yakini secara universal. Namun bagi sekelompok orang yang memiliki waktu dan kesempatan untuk berfokus dapatlah mengkajinya secara argumentatif—namun hal tersebut tetaplah berangkat dari pemahaman universal. Sehingga semua orang dapat menemukan kriteria umum yang rasional, agar bisa mengerjakan yang lain dan pulang dengan membawa plastik berisikan jeruk, bukan kulit jeruk.
Yang tidak etis adalah kita terus berusaha untuk memastikan dan memaksakan jeruk kitalah ‘yang paling manis’ meski tidak menggunakan salah satu dari tiga metode tersebut di atas sambil mencemooh, membatilkan, dan tentu saja, menyesatkan dan mengkafirkan pemakan jeruk lain. Artinya kita tidak layak lagi terjebak dalam ruang yang luas, dimana banyak orang memiliki landasan epistemologinya masing-masing dalam memahami jeruk sdan kadar-kadarnya.




[1] Pendekatan induksi menekanan pada pengamatan dahulu, lalu menarik kesimpulan berdasarkan pengamatan tersebut. Metode ini sering disebut sebagai sebuah pendekatan pengambilan kesimpulan dari khusus menjadi umum (going from specific to the general). Metode induksi ini banyak digunakan dalam ilmu pengetahaun, utamanya ilmu pengetahuan alam, yang dijalankan dengan cara observasi dan eksperimentasi. Jadi metode ini berdasarkan kepada fakta – fakta yang dapat diuji kebenarannya. Prof. Dr. Kaelan, MS, Metode Penelitian Filsafat, Yogyakarta:
[2] Analogi induktif merupakan analogi yang disusun berdasarkan persamaan yang ada pada dua fenomena, kemudian ditarik kesimpulan bahwa apa yang ada pada fenomena pertama terjadi juga pada fenomena kedua.. Di dalam proses analogi induktif kita menarik kesimpulan tentang fakta yang baru berdasarkan persamaan ciri dengan sesuatu yang sudah dikenal. Kebenaran yang berlaku yang satu (lama) berlaku pula dengan yang lain (baru). Yang sangat penting dengan proses analogi induktf ialah bahwa persamaan yang digunakan sebagai dasar kesimpulan merupakan ciri utama (esensial) yang berhubungan erat dengan kesimpulan
[3] Pendekatan seperti ini dikenal dengan Metode deduksi , yang merupakan metode yang menggunakan logika untuk menarik satu atau lebih kesimpulan (conclusion) berdasarkan seperangkat premis yang diberikan. Dalam sistem deduksi yang kompleks, peneliti dapat menarik lebih dari satu kesimpulan. Metode deduksi sering digambarkan sebagai pengambilan kesimpulan dari sesuatu yang umum ke sesuatu yang khusus (going from the general to the specific). Prof. Dr. Kaelan, MS,...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar