Logika Minor Vs Logika Mayor
Jeruk Logika Minor Vs Logika Mayor, merupakan cerita
yang sangat teringat dibenak saya ketika belajar filsafat di S1 dulu. Namun
mungkin berbeda orientasi sangat belajar Filsafat Ilmu saat ini. Cerita
Jeruk ini bermula dari tiga orang yang ingin membeli 1 kilogram buah jeruk
manis di sebuah pasar swalayan untuk dibawa pulang ke rumahnya. Setiap orang
akan memastikan rasa manis dari jeruk yang akan di beli.
- 1) Orang pertama mencoba semua jeruk (1kg). Dia meninggalkan toko itu dengan membawa plastik berisikan kulit sepuluh buah jeruk.
- 2) Orang kedua, hanya mencicipi sebuah jeruk, lalu memasukkan 1 kg jeruk dalam plastik sesudah membayarkan harganya lalu meninggalkan toko itu.
- 3) Orang ketiga melakukan serangkaian aksi intelektual terhadap jeruk tersebut secara universal, mulai dari meneliti merek, cara, komposisi kandungannya dan nama negara pengekspornya.Ia memastikan sepuluh jeruk itu manis tanpa mencicipinya satu buah pun lalu meninggalkan toko itu sambil menjinjing plastik berisikan 1 kg jeruk.
Ada tiga tipikal manusia yang menggunakan tiga cara membangun
sebuah keyakinan, termasuk keyakinan agamanya.
1.
Orang pertama menggunakan induksi, karena setiap tema harus diyakini
berdasarkan penelitian, ia mulai mengkaji satu tema lalu tema kedua dan
begitulah seterusnya.[1]
Benaknya berpindah dari sebuah tema minor ke tema minor lainnya sebelum
menghimpunnya dalam sebuah keyakinan yang kompleks. Aksi induksi ini
menyimpulakn tema universal sebagai kesimpulan.
2.
Orang kedua menggunakan metode kombinasi analogi dan induksi (analogi
induktif)[2]
yang terbatas. Menularkan hukum sebuah objek partikular terkecil yang telah
dikajinya atas objek partikular lainnya yang tidak dikajinya, lalu memastikan
semua partikular yang sama dalam himpunan keyakinan universal sebagai
kesimpulan.
3.
Orang ketiga hanya mengkaji tema universal yang merupakan muara tema-tema
partikular lainnya. Ia hanya memeras otak untuk memahami tema mayor, yang
meliputi minor-minor. Selanjutnya ia hanya menerima dan mengamalkan tema-tema
minor yang merupakan konsekuensinya. Sebagai contoh, ia melakukan shalat, yang
merupakan tema minor, sebagai konsekuensi keyakinan mayornya, yaitu Islam,
tanpa merasa perlu tahu tentang dalil detailnya[3].
Selanjutnya ia menjalankan aktivitasnya.
Ketiga metode yang kita bahas diatas, akan lebih
mendalam pemabahasannya dalam kajian epistemologi, yaitu ilmu tentang sumber
dan anatomi pengetahuan. Sehingga bisa kita dipastikan bahwa orang pertama tidak akan
pernah berhenti mencari, membahas dan berdiskusi, bahkan mungkin tidak sempat
melaksanakan keyakinannya, karena ia akan sibuk menjelajahi etalase tema-tema
partikular yang masih mengganjal atau yang belum diproses oleh otaknya atau
belum diyakininya. Ia adalah petualang wacana, tanpa mencapai sebuah kesimpulan
universal yang bisa dijadikan sebagai pandangan dunia dan jalan hidupnya. Sedangkan
orang kedua hanya mengandalkan kemungkinan universal berdasarkan pengetahuan
yang bersifat partikular, dengan tetap membuka ruang kecil bagi opsi dan
kemungkinan lain yang bisa jadi menafikan kesimpulan universalnya. Ia
senanatiasa diliputi oleh kecurigaan dan waw-was akan kesalahan yang mungkin
akan muncul, karena belum diyakininya secara komprehensif. Ia tidak akan pernah
memiliki keterikatan relijius. Ia bahkan akan selalu gamang dan tidak commitmen.
Sisi positifnya, ia biasanya bersikap pluralis, toleran dan anti fanatisme. Adapun
orang ketiga tidak akan sibuk lagi dengan mempelajari dan mengkaji tema-tema
partikular yang dianggapnya sebagai bagian dari tema universal yang telah
diyakininya. Misalnya, orang ini tidak akan menghabiskan waktu di perpustakaan
untuk mencari tahu dalil tentang detail-detail shalat, karena sudah memastikan
sumber hukum yang diandalkannnya untuk dijadikan sebagai panutan dan rujukan. Orang
yang menggunakan cara ketiga (deduksi) tidak merasa perlu mengetahui dalil dan
alasan serta detail hukum tema-tema yang bersifat partikular sebelum
melaksanakannya. Ia laksana orang yang telah memeras otak untuk mencari
kriteria ‘atasan’. Setelah menemukan dan meyakini seseorang sebagai atasannya
dan dirinya sebagai bawahannya, ia tidak lagi memerlukan dalil untuk
melaksanakan setiap perintah atasannya itu, karena perintah itu bersifat
partikular, dan hanyalah konskuensi logis dari keyakinan universalnya akan
status orang itu sebagai atasan. Kalau bawahan menanyakan alasan rasional dan
tujuan perintah atasannya, sangat mungkin besok ia sudah kehilangan posisi
sebagai ‘bawahan’ alias di PHK karena desersi atau ‘mogok taat’.
Manakah cara yang perlu diutamakan dan dipilih? penulis
juga merasa bingung dalam menentukan pilihan mana yang paling tepat. Pendekatan
induksi tidak ada salahnya jika dilakukan, namun pendekatan ini tidak berlaku
untuk semua objek kajian, lebih cendrung pada ilmu-ilmu alam yang dapat
berhubungan langsung dengan kajian keagamaan. Misalnya mengukur tingkat
kebersihan air untuk bersuci, penggunaan air dua kulah, dan sebagainya. Begitu
juga untuk pendekatan pertama, haruslah dilakukan pembatasa objek, sehingga
kesempulan yang dihasilnya tidak digeneralisir. Artinya agama yang merupapakan
keyakinan dapatlah kita yakini secara universal. Namun bagi sekelompok orang
yang memiliki waktu dan kesempatan untuk berfokus dapatlah mengkajinya secara
argumentatif—namun hal tersebut tetaplah berangkat dari pemahaman universal. Sehingga
semua orang dapat menemukan kriteria umum yang rasional, agar bisa mengerjakan
yang lain dan pulang dengan membawa plastik berisikan jeruk, bukan kulit jeruk.
Yang tidak etis adalah kita terus berusaha untuk memastikan
dan memaksakan jeruk kitalah ‘yang paling manis’ meski tidak menggunakan salah
satu dari tiga metode tersebut di atas sambil mencemooh, membatilkan, dan tentu
saja, menyesatkan dan mengkafirkan pemakan jeruk lain. Artinya kita tidak layak
lagi terjebak dalam ruang yang luas, dimana banyak orang memiliki landasan
epistemologinya masing-masing dalam memahami jeruk sdan kadar-kadarnya.
[1]
Pendekatan induksi menekanan pada pengamatan dahulu, lalu menarik kesimpulan
berdasarkan pengamatan tersebut. Metode ini sering disebut sebagai sebuah
pendekatan pengambilan kesimpulan dari khusus menjadi umum (going from specific
to the general). Metode induksi ini banyak digunakan dalam ilmu pengetahaun,
utamanya ilmu pengetahuan alam, yang dijalankan dengan cara observasi dan
eksperimentasi. Jadi metode ini berdasarkan kepada fakta – fakta yang dapat
diuji kebenarannya. Prof. Dr. Kaelan, MS, Metode Penelitian Filsafat,
Yogyakarta:
[2]
Analogi induktif merupakan analogi yang disusun berdasarkan persamaan yang ada
pada dua fenomena, kemudian ditarik kesimpulan bahwa apa yang ada pada fenomena
pertama terjadi juga pada fenomena kedua.. Di dalam proses analogi induktif
kita menarik kesimpulan tentang fakta yang baru berdasarkan persamaan ciri
dengan sesuatu yang sudah dikenal. Kebenaran yang berlaku yang satu (lama)
berlaku pula dengan yang lain (baru). Yang sangat penting dengan proses analogi
induktf ialah bahwa persamaan yang digunakan sebagai dasar kesimpulan merupakan
ciri utama (esensial) yang berhubungan erat dengan kesimpulan
[3]
Pendekatan seperti ini dikenal dengan Metode deduksi , yang merupakan metode
yang menggunakan logika untuk menarik satu atau lebih kesimpulan (conclusion)
berdasarkan seperangkat premis yang diberikan. Dalam sistem deduksi yang
kompleks, peneliti dapat menarik lebih dari satu kesimpulan. Metode deduksi
sering digambarkan sebagai pengambilan kesimpulan dari sesuatu yang umum ke
sesuatu yang khusus (going from the general to the specific). Prof. Dr. Kaelan,
MS,...
